Tuesday, December 31, 2013

A Stranger

 A Stranger by Mute


“It’s amazing how a person called stranger can suddenly mean the world to you..”


"Masih kejebak macet di SCBD, Ma. Bener-bener nggak bisa jalan. Apa? Ah, iya nggak apa-apa, kalian pergi duluan aja. Nanti kalau udah sampe rumah aku langsung nyusul. Iya, Ma. Aku bakalan hati-hati kok. Iya. Ya udah ya, aku lagi nyetir nih, nanti aku telfon lagi. Okay, see you, Mom."

Aku menghela nafas berat seraya melempar asal iPhone-ku ke jok sebelah. Jika dihitung sudah hampir satu jam aku stuck di kawasan ini. Aku bener-bener nggak ngerti lagi deh sama Jakarta. Ya, iya sih aku bisa maklum kalau sekarang adalah malam tahun baru, tapi tetep aja jatohnya kebangetan. Masak di malam tahun baru aku tetap harus berkutat dengan segala kemacetan yang memuakkan ini? Seolah semua penderitaan kemacetan yang aku alami selama ini belum cukup. Hiks.

Okay, lebay.

Aku emang suka mendramatisir keadaan kalau lagi bad mood. Tapi sekarang kayaknya bukan bad mood lagi deh namanya. Tapi udah super-duper-bad-mood. Ya gimana enggak, semua rencana tahun baruku berantakan begitu saja saat tadi pagi pak bos nelfon dan maksa aku buat kerja di hari ini. Hanya karena perusahaanku majuin tanggal pemeriksaan aduit, sekarang aku harus mengorbankan jatah liburku untuk berkutat menyiapkan segala laporan keuangan seharian di kantor. Nyebelin banget, kan? Udah gitu, hari ini aku juga PMS. Hari pertama lagi. Ya Tuhaaaaan, aku nggak tau lagi deh harus ngomong apa untuk hari yang superb ini.

"Mbak, Mbak,"

Tiba-tiba saja kaca mobilku diketuk oleh seseorang. Aku menoleh dan menemukan seorang pria paruh baya tengah melongok ke dalam mobilku sambil menenteng sebuah payung. Aku mengerutkan kening, nggak ngerti apa maksud dari bapak-bapak ini. Awalnya aku takut untuk membuka kaca mobil, tapi setelah meyakinkan diri kalau dia nggak punya maksud jahat, aku pun membuka kaca mobil juga.

"Iya, Pak, ada apa ya?"

"Mbak kayaknya ban mobil belakangnya kempes deh."

"Ha?" Aku melongo. "Yang bener, Pak?"

"Iya bener, kurang angin kayaknya. Emangnya Mbak nggak ngerasa?"

Mendadak aku lemas. Rasanya hari ini aku mau berteriak sekenceng-kencengnya biar semua orang tahu kalau hari ini aku bener-bener sial. Dear universe, kenapa engkau tega sekali sih?!

Nggak mau mempertambah buruk keadaan, akhirnya aku melipir minggir nyari pombensin buat ngisi angin. Sebenernya dari dulu aku nggak pernah bisa ngisi angin sendiri, biasanya kerjaan kayak gini selalu aku serahkan pada Adit-kakakku. Tapi karena sekarang  keadaannya kepepet, terpaksa deh aku melakukannya sendiri.

Setelah masalah ban selesai, aku mutusin untuk minum kopi dulu di Starbucks deket pom bensin. Rasanya aku harus nenangin diri sejenak deh. Lagian di luar juga masih macet dan well sekarang gerimis. Aku nggak mungkin kan nyetir sendirian dan nunggu macet di tengah gerimis dalam kedaan lelah? Bisa-bisa aku ketiduran terus bikin antrian mobil di belakang tambah panjang sampai ke Dukuh Atas. 

Okay, aku lebay lagi.

"Mas, Caramel Macchiato-nya satu ya." Ucapku pada barista Starbucks yang tampangnya sedikit mirip artis FTV ini. Aku sih nggak tahu namanya, tapi kayaknya aku sering lihat di tv. Eh, apa jangan-jangan dia emang artis FTV yang lagi part time  di sini? Aduh terserah deh aku juga nggak peduli.

Setelah mengambil kopi pesananku, aku langsung berkeliling mencari bangku yang kosong. Dan shoot, kalian tahu apa? Starbucks hari ini penuh banget. Nggak ada bangku kosong satu pun yang tersisa.  Aduh, masa aku harus bawa minumanku ke mobil sih? Niatku ke sini kan untuk menenangkan diri sejenak, kalau ujung-ujungnya berakhir di mobil juga, sama aja bohong dong?

Aku meringis-ringis kecil sambil menyebarkan pandangan sekali lagi ke seluruh penjuru ruangan. Siapa tahu gitu ada pelanggan yang lagi siap-siap pergi untuk menghabiskan waktu tahun barunya di luar daripada harus duduk diam dan hanya mengobrol sambil minum kopi di Starb-oh yeah. I got it. Ternyata ada pelanggan yang lagi siap-siap pergi. Tanpa banyak mikir, aku pun langsung berjalan ke meja mereka.

"Woah, finally," aku mendesah nikmat sambil menyandarkan punggung lelahku di sandaran sofa. Kayaknya aku bakalan diam di sini sampai satu jam ke depan deh, sekalian nunggu macetnya selesai. Nggak tahulah sama acara tahun baru yang udah aku rencanain bareng papa-mama, Adit, dan adikku. Aku harap mereka semua masih bisa menikmati tahun baru ini walaupun aku bakalan dateng telat atau mungkin.. nggak dateng. Huh.

"Permisi,"

Sebuah suara mengintrupsi pikiranku. Aku mendongak dan tertegun saat menemukan seorang pria yang.. well good looking tengah berdiri sambil tersenyum tipis padaku. Spontan aku menegakkan posisi duduk dan balas tersenyum ke arahnya.

"Permisi, bangkunya kosong nggak? Saya boleh numpang duduk sebentar di sini? Soalnya nggak ada bangku kosong lagi." tanyanya ramah. Dan spontan aku langsung mengangguk menyetujui tanpa berpikir terlebih dahulu.

Oh damn. Aku nggak tahu aku ini sebenernya kenapa. Tapi kayaknya aku nggak mungkin bisa nolak pria se-cute pria yang sekarang tengah duduk di hadapanku ini deh. Kalau Tuhan menciptakan manusia berdasarkan mood, aku rasa pas nyiptain dia mood Tuhan lagi bangus banget. Pria yang duduk di hadapanku ini bener-benar berhasil bikin aku kehabisan nafas lantaran gugup. Ih, mimpi aku semalam sampai bisa duduk satu meja dengan stranger tampan ini?

"Sori, beneran nggak apa-apa nih kalau saya duduk di sini?" si stranger bertanya lagi saat sadar kalau sedari tadi aku hanya mematung sambil memandanginya. 

"Iya nggak apa-apa kok. Santai aja." Sekali lagi aku tersenyum gugup. Buru-buru aku menyesap kopiku, berharap rasa cairan cokelat itu bisa membuatku sedikit lebih tenang.

"Nggak nyangka, tahun baru Starbucks penuh juga ya. Saya pikir cuma Ancol aja yang penuh pas tahun baru." Guraunya tiba-tiba yang nyaris membuat aku tersedak. Oh my God, tidakkah itu artinya dia sedang mengajakku bicara? Seriusan?

"Ah.. ehm.. iya ya saya juga nggak nyangka." Aku membalas seadanya. Bukan karena tidak ingin ngobrol banyak, tapi lebih karena aku nggak tahu harus menjawab kalimatnya barusan dengan kalimat apa. Walaupun malu mengakuinya, for your info aja, sekarang aku deg-degan banget.

"Kamu.." si stranger menahan kalimatnya sementara aku menahan nafasku. "Kamu sendirian aja? Nggak punya rencana tahun barusan sama teman atau pacar?"

"Ah? Oh, rencana sih ada. Tadinya mau tahun baruan bareng keluarga, dinner di restoran favorite ibu saya. Tapi sialnya hari ini saya harus ngantor dan pulangnya kejebak macet. Sekarang nggak tahu deh masih sempet ikut tahun baruan bareng mereka atau malah harus tahun baruan di dalem mobil." Aku tertawa seraya melirik jam yang melingkar di tanganku. Jam 10 lewat 55 menit. Yeah, sial.

"Oh sepertinya kita senasib." Ia menyesap americano-nya dengan cara yang asdfghjkl. Sumpah, kalau sekarang di sebelahku ada Mila-sahabatku, aku pasti langsung meremas-remas tangannya gemas. "Saya juga harus ngantor di tahun baru. Menyedihkan, ya?"

"Iya, menyedihkan." Aku tertawa kecil.

"Tapi saya lebih menyedihkan.  Setelah ini tetap harus stay di kantor sampai besok pagi."

"Woah, ngapain?"

Ia tersenyum, membuat kedua matanya tertarik ke samping. "Ngerjain project . Team leader saya minta design-nya selesai besok sore sementara teman-teman satu team saya banyak yang cuti. Jadilah saya di sini, kena tumbal."

"Woah, kamu baik banget. Kalau saya jadi kamu, saya pasti bakalan ikutan cuti juga."

Aku dan dia tergelak bersama. Sebentar lupa kalau kami adalah dua orang stranger yang tidak sengaja duduk di satu meja yang sama lantaran seluruh meja di kedai kopi ini penuh. Aku bahkan lupa kalau aku baru saja mengelanya beberapa menit yang lalu.

"Ngomong-ngomong, kamu arsitek?" Tanyaku ragu. Semoga nggak terkesan kepo.

"Kok kamu tahu?"

"Tadi kamu bilang kamu lagi nge-design, jadi yah.. saya simpulin aja kalau kamu arsitek. Eh, saya sok tahu ya?"

Ia menggeleng pelan sambil tersenyum. Tersenyum khusus untukku. Oh.. terima kasih Tuhan. Aku nggak akan ngelupain senyuamnya barusan. Manis banget, aku bisa diabetes nih.

"Enggak, kamu bener kok. Saya memang arsitek."Jawabnya. "Tapi kamu aneh. Umumnya, kalau saya bilang saya lagi nge-design, harusnya kamu nebak saya designer dong?"

Kini giliran aku yang tersenyum. "Aduh nggak mungkin banget tampang kamu gini seorang designer. Yang bener aja."

"Loh emangnya tampang saya kenapa?"

Dan malam itu percakapan kami berlanjut sampai ke hal-hal yang tak terduga. Dari mulai membahas aku bekerja di mana, pekerjaanku menyenangkan atau tidak, aku anak keberapa, tinggal di mana, band favorite-ku siapa, sampai kopi kesukaanku apa dan berapa sering dalam seminggu aku datang ke kedai kopi hanya untuk meminum kopi.

Aku benar-benar tidak menyangka jika terjebak dalam gerimis di Starbuck bersama stranger tampan seperti dirinya akan semenyenangkan ini. Di samping wajahnya yang good looking, ternyata dia juga good manner dan juga good talking. Selama hampir 30 menit lebih aku mengobrol dengannya, aku benar-benar merasakan seperti sedang mengobrol bersama orang yang sudah kukenal sejak lama. Jujur saja, sebenarnya aku ini bukan tipe orang yang bisa langsung dekat dengan orang baru. Biasanya, saat berkenalan dengan orang baru, aku ini sedikit jutek dan dingin. Tak jarang aku juga mengeluarkan kalimat sarkasku pada mereka. Tapi anehnya, malam ini aku malah tampak ramah dan friendly dengan si stranger ini. Satu sisi dari diriku yang mengejutkan ini sukses membuat aku heran juga. Sepertinya aku benar-benar tertarik pada pria berkemeja putih polos itu.

"Ah kayaknya hujannya udah berenti ya?" Ia melongok ke luar jendela Starbucks, mencoba menerawang jauh ke jalanan di depan yang sudah tidak lagi basah tergenang rintikan gerimis. Setelah itu ia melirik jam tangannya sejenak sebelum akhirnya mendesah pelan. "Sudah jam 12 kurang 20 menit. Sepertinya saya harus pergi sekarang."

"Oh begitu.." aku mengangguk-anggukan kepala. Mencoba memaklumi padahal di dalam hati sedikit kecewa. Tidak bisakah ia di sini sampai jam 12 nanti? Tidak bisakah aku menghabiskan akhir tahun ini sedikit lebih lama dengan sang stranger tampan ini?

"Ah kalau begitu, kayaknya saya juga pergi deh." Putusku akhirnya. Kopiku sudah habis dan aku juga tidak punya alasan lagi untuk stay di kedai kopi ini lama-lama. Dari pada bengong nggak jelas, lebih baik aku pulang juga. 

Aku mengambil cardigan-ku yang sedari tadi kugeletakan di atas sofa. Tas kerjaku yang lumayan besar itu kusangkutan di pundak secara terburu-buru. Sekarang aku tengah berusaha menyamai langkah si stranger keluar dari dalam Starbucks.

"Kamu bawa mobil?" tanyaku saat kami tiba di parkiran.

"Enggak, tadi saya ke sini jalan kaki. Mobilnya saya parkir di basement kantor. Kantor saya kan deket, lima menit juga sampai."

"Oh." Aku membulatkan mulut. "Eh kalau gitu bareng saya aja. Nanti sampai depan saya turunin. Kantor kamu yang sebelahnya Antreas itu, kan?"

"Ah nggak usah, ngerepotin jadinya."

"Enggak. Enggak ngerpotin kok. Beneran deh." Aku menaruh kedua tanganku di depan dada dan menggerakkannya cepat. Ya, siapa yang bakalan merasa direpotin kalau numpaing orang setampan dia, iya kan? Aku sih nggak mau munafik hehehe.

"Nggak usah, seriusan. Abis ini saya mau ke Kaftee and Bun dulu, mau beli kue buat cemilan malam ini. Kalau kamu nganterin saya dulu, nanti malah muter-muter. Kasian kamu, kan lagi macet."

"Oh gitu.." Aku menghela nafas kecewa. Bener juga sih. Kalau aku nganterin dia ke Kaftee and Bun dulu, itu artinya aku bakalan wasting time. Meanwhile sekarang juga udah malem, ibuku pasti khawatir kalau aku belum sampai ke rumah juga. Ah sepertinya pertemuan manis aku dengan stranger ini hanya akan berakhir sampai di sini aja.

"Ya udah kalau begitu,  saya duluan ya. Makasih loh buat obrolan singkatnya malam ini. Makasih juga udah mau nemenin saya tahun baruan di Starbucks." Kataku tulus.

"Loh harusnya saya yang makasih. Makasih juga ya kamu udah mau berbagi meja sama saya."

"Iya sama-sama. Kalau begitu saya duluan ya. Bye."

Aku segera melangkahkan kakiku masuk ke dalam mobil dan menggasnya keluar dari area parkir Starbucks. Ternyata jalanan masih sama macetnya kayak tadi. Aku nggak ngerti lagi deh, kalau kayak gini ceritanya aku nggak tahu bakalan sampai rumah jam berapa.

Tapi walau jalanan sama ngebeteinnya kayak tadi, setidaknya aku udah nggak se-bad mood tadi dong. Ini semua berkat si stranger tampan itu. Kalau aku nggak ke Strarbucks hari ini dan bersedia berbagi meja dengannya, aku pasti nggak akan sebahagia ini.

Ah stranger tampan.. kamu tuh ibarat penutup tahun yang manis deh. Andai kita bisa ketemu la..

Tunggu.

Oh crap. Bodoh banget sih aku ini. Tahu gitu tadi kenapa nggak minta kartu namanya aja? Siapa tahu kan emang ada kesempatan lagi buat ketemu dan ngopi-ngopi bareng kayak tadi? Damn, damn, damn. Dan hal bodoh lainnya dari pertemuan manis tadi adalah… saking asyik ngobrol aku sampe lupa memperkenalkan namaku dan juga menanyakan namanya.

Ah bodoh. Bodoh. Bodoh. 

Aku ini memang bodoh, kan?

Aku masih sibuk meruntuki diri saat dering ponselku itu mengejutkanku. Ternyata sedari tadi aku masih meninggalkannya di jok samping. Sambil meraba-raba, sementara tangan kananku memegang kemudi, tangan kiriku pun mengambil ponsel berwarna putih itu. Aku langsung menjawab panggilan tersebut saat sadar kalau nama yang ter-display di layar ponselku itu adalah nama ibuku.

“Hallo, Ma.”

Dila, kamu di mana sekarang? Kenapa dari tadi Mama telfonin nggak diangkat-angkat?

“Aduh,” spontan aku menjauhkan ponselku sekian centi dari telinga. Ibuku yang satu ini nggak bisa ngomong lebih pelan lagi apa? Gini nih kalau udah khawatir, kadang beliau emang nggak peduli lagi jika harus berteriak-teriak panik sampai kedengeran satu RT. “Aduh iya Ma sori, tadi hp-nya ketinggalan di mobil. Tadi banku kempes jadi aku sekalian aja ngopi dulu di Starbucks.”

Ya ampun kamu itu ya, dasar. Kita di sini udah panik-panik mengkhawatirkan kamu, kamunya malah enak-enakan ngopi.

Iya sekalian ngobrol sama cowok ganteng lagi. Batinku sambil tertawa jahil.

“Ya ampun Mama lebay banget deh. Tadi kan aku udah bilang, kalau aku sudah sampai rumah, aku pasti bakalan nyusul ke acara dinner kita. Tenang aja.”

Iya Mama tahu. Tapi bukan itu yang Mama khawatirkan sekarang.

“Terus apa? Soal aku yang masih kejebak macet di jalan? Udah deh tenang aja, aku bakalan ngebut sampe rumah as soon as possible kok.”

Bukan, bukan itu.”

Suara ibuku terdengar khawatir. Mendadak perasaanku jadi tidak enak. Sebenarnya ini ada apa?

Dila, kamu beneran baik-baik aja, kan? Nggak kenapa-kenapa, kan? Nggak ada yang luka, kan? Suasana di sana aman-aman aja, kan?

Aku mengerutkan kening seraya menginjak rem. Aduh kalau ibuku udah begini lebih baik aku minggirin mobil dulu deh. Daripada nggak fokus nyetir trus ujung-ujungnya nabrak. Aku sih sayang nyawa.

“Iya aku baik-baik aja, Ma. Emangnya kenapa sih?” kataku saat aku sudah memarkirkan mobilku di pinggiran jalan.

Itu.. tadi ada berita kebakaran di daerah deket kantormu. Toko kue yang enak itu–apa sih namanya, Mama lupa.. ya pokoknya toko kue yang deket kantor kamu itu kebakaran hebat dan menelan beberapa korban. Tadi beritanya ada di tv. Temennya Papa yang juga masih di daerah SCBD ngasih tahu kalau kebakarannya parah banget. Kamu emangnya nggak tahu?

“Toko kue kebakaran?” Aku memutar kepala ke arah belakang. Dan tepat setelah itu aku bisa melihat kepulan asap hitam mengepul tebal di langit. Buru-buru aku membuka kaca mobil. Dan yap bener banget. Sepertinya di daerah SCBD ini memang ada kebakaran.

Oh my God. Kok aku bisa sampe nggak tahu ya? Padahal kan deket.

“Iya Ma aku nggak tahu. Ini baru aja tahu pas Mama nelfon. Toko kue yang mana sih yang kebakaran emangnya, Ma?”

Ituloh yang cheese cake-nya enak banget. Yang sering kamu bawa pulang.”

“Oh Kaftee and Bun.”

Nah iya itu, Kaftee and Bun.”

Yah, sayang banget Kaftee and Bun kebakaran. Padahal tadi–

WHAT?!

Apa tadi? Kaftee and Bun kebakaran dan menelan korban? Aduh, aduh, aduh, ini aku nggak salah denger, kan? Kaftee and Bun kebakaran? Beneran kebakaran?

Mendadak aku panik. Teringat bahwa beberapa menit yang lalu aku baru saja melepas si stranger tampan pergi ke Kaftee and Bun. Aduh. Aku nggak tahu deh ini mimpi atau bukan. Tapi kalau tadi dia beneran pergi ke Kaftee and Bun, tidakkah itu artinya sekarang dia…

Aku nggak sanggup melanjutkan kalimat yang sedang melintas di kepalaku. Tanpa menghiraukan ibuku yang masih mengoceh di telfon, aku segera keluar dari dalam mobil dan berlari secepat mungkin ke arah Kaftee and Bun yang kebetulan lokasinya nggak begitu jauh dari lokasiku memarkir mobil. 

Situasi di sekelilingku udah nggak tahu lagi deh kayak gimana. Aku bener-bener nggak bisa mendeskripsikannya dengan jelas. Mendadak orang-orang panik, mobil-mobil yang bertebaran di jalan satu per satu melipir atau bahkan ada yang menggas dan memaksakan diri keluar secepatnya dari area SCBD. Mungkin takut kalau api akan cepat merembet dan menghanguskan gedung-gedung sekitarnya. Suara sirine pemadam kebarakan samar-samar terdengar, masuk menerobos langsung menuju tempat perkara kejadian.

Aku meringis sambil tak henti-hentinya teringat akan wajah si stranger tampan yang aku temui di kedai Starbucks tadi. Entah mengapa kini aku sangat mengkhawatirkannya. Ya, aku tahu dia memang cuma orang asing yang baru saja aku kenal tadi. Tapi kalau dia bener-benar dateng ke Kaftee and Bun dan kemudian menjadi salah satu korban yang tadi dikabarkan, aku nggak tahu deh, aku pasti bakalan nangis sejadi-jadinya kali.

Ya gimana enggak. Orang yang berapa saat lalu masih ngobrol dan ketawa-ketawa bareng aku tiba-tiba aja harus jadi salah satu korban yang tewas karena sebuah kebakaran? Selain sedih, aku juga pasti akan shock berat.

Kulepas sepatu high heels-ku untuk mempercepat langkahku. Sekarang aku benar-benar nggak peduli lagi. Aku harus memastikan sendiri ke Kaftee and Bun. Aku harus memastikan kalau si stranger tampan tadi bukanlah salah satu korban dari kebakaran kali ini. Ya, aku harus pastiin hal itu sekarang juga.

“Mbak, maaf mau ke mana ya? Jalanan untuk sementara kami tutup. Di depan sedang terjadi kebakaran.” 

Seorang polisi yang sedang berjaga menahanku untuk pergi ke TKP.  Aku menggeleng lemah padanya, memohon untuk diizinkan pergi menerobos ke sana.

“Pak izinin saya pergi ke sana ya. Teman saya, Pak… teman saya tadi ada di sana.”

“Maaf Mbak, tetap tidak bisa. Di depan apinya besar sekali dan pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkannya. Akan sangat berbahaya jika Mbak mencoba menerobos ke sana.”

“Tapi Pak..”

“Maaf Mbak, tetap tidak bisa.” Kata si polisi itu tegas.

Aku lantas menurunkan pundak lemas.  I have no idea for it. Aku nggak tahu lagi harus gimana sekarang. Mendadak seluruh tubuhku terasa tak bertenaga, aku bahkan harus cepat-cepat meraih pinggiran pot besar yang tergeletak di jalan sebagai pegangan sebelum terjatuh. Air mataku sudah mulai mengalir tergenang memenuhi pelupuk mata. Aku rasa sebentar lagi aku akan menangis di sini. Menangisi si stranger yang bahkan nggak aku ketahui namanya itu.

Hey, are you alright?”

Sebuah suara yang kurasa tak asing masuk memenuhi ruang pendengaranku. Aku mengangkat wajah saat aku merasakan si empunya suara itu mencengkram pergelangan tanganku dan menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Dan kedua bola mataku lantas membulat lebar saat aku melihat dia di sana. Ya, si stranger yang tengah kutangisi ini ada di sana. Di hadapanku dan tengah menatapku dengan tatapan khawatir.

Tanpa aba-aba, aku langsung berlari ke dalam pelukkannya dan memeluk tubuhnya erat. Aku nggak peduli dengan apa yang akan ia pikirkan nanti tentang diriku. Sekarang aku benar-benar lega karena ternyata dia baik-baik saja. Ya, aku merasa sangat-sangat-sangat lega karena ternyata ia masih hidup dan selamat dari kejadian kebakaran yang sebelumnya kuperkiraakan itu.

“Kamu.. kamu baik-baik aja, kan?” tanyaku sembari terisak.

Walaupun tidak bisa melihatnya, tapi aku dapat merasakan dia menganggukkan kepalanya. “Ya, aku baik-baik aja kok.”

“Syukurlah.”

Aku melepaskan pelukanku. Sekali lagi aku menatapnya dengan pandangan lega. Belum pernah aku sesenang ini rasanya ketika dapat bertemu kembali dengan orang yang baru aku kenal beberapa saat yang lalu. Bukan senang dalam artian karena aku tertarik padanya. Tapi senang karena ternyata dia baik-baik saja.

Si stranger menatapku dari atas sampai bawah. Ia menaikan satu alisnya heran saat ia melihat aku bertelanjang kaki dan malah menenteng high heels-ku. Sejurus kemudian dia tersenyum manis, senyum yang sama seperti yang tadi ia berikan padaku di kedai Starbucks.

“Kamu lari ke sini cuma ingin memastikan kalau saya baik-baik aja, ya?”

Aku mengangguk. Dan entah ada angin apa, selain tersenyum ia juga menggerakkan tangannya ke atas dan mengelus kepalaku lembut.

“Makasih ya, kamu perhatian banget.”

“Saya khawatir tauk! Saya takut kamu–”

“Saya belum sempat masuk ke Kaftee and Bun saat kebakaran.” Jelasnya yang kemudian merebut high heels-ku tanpa permisi. Ia merundukkan tubuhnya, lalu tanpa aku sangka-sangka memakaikan kembali sepatu itu ke kedua kakiku.

Aku tercengang, hebat. Aku bahkan belum sempat berkata apa-apa saat tahu-tahu sebuah kembang api meletup kencang tepat di atas kepalaku dan di susul dengan bunyi letupan-letupan lainnya. Aku dan dia mengadah bersamaan, menatap langit Jakarta yang malam itu berhias cahaya indah dari kembang api serta asap tebal dari sisa-sisa kebakaran. Detik selanjutnya bunyi terompet menggema di mana-mana, menandakkan kalau sekarang sudah saatnya pergantian tahun.

Kembali aku melirik stranger tampan yang berdiri di hadapanku ini lalu tersenyum. Ia pun sama, tengah menatapku sambil tersenyum manis.

Happy New Year.” Katanya sambil menjulurkan tangan. “Saya Gandi Antaraka.”

Dan aku pun menyambut uluran tangan besar dan hangat itu mantap. “Happy New Year too. Saya Adila Danika.”
***









xoxo, mute :)

2 comments: