Tuesday, August 19, 2014

tease





Gue melirik Karenza yang tampak sibuk memperhatikan seisi kamar gue dengan detail dan saksama. Dari samping, gue bisa melihat dia tersenyum tipis memandangi deretan metamorfosa foto gue sejak masih duduk di taman kanak-kanak hingga sekarang yang digantung di salah satu dinding kamar. Mungkin dia sedang penasaran, bagaimana bisa anak laki-laki bertopi kuning yang sedang memegang pesawat kertas di dalam foto tersebut telah berhasil bertransformasi menjadi pria keren yang kini sedang berdiri tepat di sebelahnya?

Anjir, narsis banget gue.

Lagian kalau gue emang beneran keren, dia nggak mungkin nolak gue sampai dua kali juga sih.

Sial.

“Jadi mau sampai kapan lo berdiri di sana dan memandangi wajah tampan gue, Karenza?” Gue setengah terkekeh, as always, gue seneng banget kalau udah nge-tease dia kayak gini.

Seperti yang bisa gue tebak, reaksinya nggak jauh-jauh dari menghela nafas panjang dan memutar bola mata. “Wajah tampan versi jpg lo, Anrea. In person elo...” Dia memilih nggak melanjutkan kalimatnya dan malah mengikuti gue duduk di karpet, duduk tepat di hadapan gue sambil kemudian mulai mengeluarkan beberapa bukunya dari dalam tas.

“Lebih tampan?” Tanya gue curious.

I’m not going to say anything hurt.”

Gue tertawa sebagai jawaban. “Jangan khawatir, gue udah terbiasa dengan segala kalimat sarkas lo, Karenza. But, thank you anyway. At least, lo mengakui gue tampan. Walaupun hanya versi jpg-nya.”

Dia mencibir seraya mengangkat bahu ringan. Kini seluruh perhatiannya sudah terfokuskan ke arah tumpukan buku-buku pelajaran di hadapannya. “So, bisa kita mulai sekarang?”

Sure,”

“Jadi, pelajaran apa yang mau lo pelajarin pertama? Gimana kalau dimulai dari pelajaran yang lo suka dulu.”

“Pelajaran yang gue suka?” Gue berpikir sejenak. “Definitely not math. English maybe?”

“Oh please, you are really good in english.” Dia menghela nafas sambil menyisipkan anak rambutnya ke belakang terlinga kanannya. Satu gestur khas darinya yang gue suka banget. Sering kali gue menahan nafas dibuatnya. Karenza and her movements are definitely my weakness. Syit.

So, apa yang harus dipelajarin dong kalau gitu?”

Anything you like beside english.” Dia meletakan pulpennya ke atas karpet dan serius menatap gue, menunggu jawaban.

Gue tersenyum evil seraya membalas tatapan seriusnya dengan tatapan jenaka. She never fail me. 

Anything I like beside english?”

Yes.”

You.”

Dia tertawa. Renyah. Dan sukses membuat gue tertular untuk tertawa bersamanya. Sejujurnya, dia jarang banget tertawa seperti ini. Seandainya aja gue bisa menyetop waktu, gue mau berlari mengambil DSLR gue dan mengabadikan ekspresinya ini dalam satu frame foto.

“Jangan bercanda, Anrea.” Sergahnya setelah tawa renyah itu.

I’m serious. I bet you know it.”

Yeah, whatever.” Dia menyodorkan buku kumpulan soal matematika ke arah gue dan kemudian menyuruh gue untuk mengerjakan semua soal-soal tersebut hanya dalam waktu 60 menit. Gue berniat protes, tapi sialnya dia sudah terlebih dahulu mengeluarkan tatapan tajamnya yang mematikan yang selalu berhasil membungkam mulut gue dalam seketika. “Math because you likes me, and 60 minutes because you are too cheesy. Isn’t it too much?”

No, I’m fine with it.” 

Good.”


 ~

yuuuhu~ semangat nulis muncul lagi. semoga kali ini nggak stuck di tengah jalan kayak yang sudah-sudah. abis those shit rencananya mau ngerjain project ini. semoga lancar ya amin. bismillah~


xoxo, mute :)

No comments:

Post a Comment