![]() |
| cr owner |
Jakarta, Mei 2013...
“Kayaknya ada
yang berubah ya sama lo, Da.”
“Huh?”
Via—salah satu
karyawan di tempat kubekerja itu mengguman pelan sembari melipat kedua
tangannya di dada. Pandangannya ditujukan ke arahku yang kala itu sedang sibuk
berkutat dengan ponselku. Ia memerhatikanku dengan cermat dari ujung kaki
hingga ujung kepala. Setelah tahu apa yang ia rasa berubah, gadis yang dua
tahun lebih tua dariku itu tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Benar, ada yang berubah. Sekarang lo jadi lebih ceria, nggak sejutek dulu. Jadi
lebih sering tersenyum, apalagi kalau lagi texting
gitu. Lagi whatsapp-an ya? Sama
pacar?”
Menanggapi sikap
penasarannya, aku hanya mengangkat bahu ringan dan menjawab dengan santai. “Gue
nggak punya pacar.”
“Terus, kalau
bukan pacar, kenapa lo senyam-senyum bahagia gitu?”
“Gue... gue nggak
senyum.” Aku menatap Via sebal lalu tanpa berpikir panjang segera mengambil
langkah seribu, pergi meninggalkan gadis itu untuk menyembunyikan pipiku yang
kini terasa panas. Benarkah tadi aku tersenyum? Senyum-senyum? Which mean, aku tersenyum berulang kali?
Aish.
From: Anrea
It’s raining now. What are u
doing? Still working?
.
To: Anrea
Hm, rain cats and dogs here. Not
working, nggak ada pelanggan.
From: Anrea
Pantesan punya waktu buat bales
whatsapp gue :)
Anyway, jam berapa selesai kerjanya? Biar gue jemput.
To: Anrea
It’s okay. Nggak usah.
Gue masih bisa pulang sendiri
kok.
Dan, gue bawa payung.
From: Anrea
Ck, Karenza...
To: Anrea
Serius.
From: Anrea
Sometimes i don’t know whether I
should hate your
stubbornness or love it.
To: Anrea
Just love-hate it, then.
From: Anrea
Already :)
Okay, drop me a line later.
I’m going to Nino’s house now. Bye.
Aku membaca ulang percakapanku dengan Rea yang
terakhir, yang berhasil membuatku tersenyum—menurut Via—, lalu tanpa bisa
kutahan, bibirku ini kembali melengkungkan senyuman lagi. Sialnya Via benar.
Mung-kin aku memang senyam-senyum bahagia tadi. Mungkin aku memang tidak bisa
menahan diriku untuk tidak tersenyum ketika membaca pesan yang dikirimkan Rea
untukku ini.
Ahg.
Hari
ini Jakarta diguyur hujan lebat, lengkap dengan kilat dan petir. Aku tidak
mengerti lagi dengan pelajaran pembagian musim berdasarkan bulan yang
kupelajari di bangku sekolah dasar dulu. Kini hujan tak lagi selalu datang di antara
bulan Oktober sampai Maret, even Mei
pun Jakarta diguyur hujan deras.
Dan
bicara soal hujan, aku selalu menyukainya. Ya, aku suka hujan. Hujan membawa kedamaian.
Dalam agamaku, turunnya hujan bahkan disebut sebagai berkah dari yang Maha
Esa. Aku suka melihat hujan, memerhatikan rintik-rintik air yang jatuh dari
atas menyentuh tanah, membasahi jalanan yang kering, menimbulkan suara-suara
yang menenangkan jiwa. Saking sukanya dengan hujan, aku bahkan sengaja men-download aplikasi rain sounds di handphone-ku
dan selalu mendengarkannya sebelum aku pergi tidur. Suara hujan membuat hatiku
menjadi tenang. Buatku, mendengarkan suara hujan adalah satu terapi relaksasi
yang menyenangkan.
Seperti
saat ini contohnya. Kini aku tak memerlukan aplikasi rain sounds untuk mendengarkan suara hujan. Yang cukup kulakukan
hanyalah duduk di salah satu meja pengunjung yang letaknya menghadap langsung
ke arah jendela dan memejamkan mataku sejenak. Menajamkan pendengaran,
memfokuskan diri pada suara gemercik yang terdengar jelas dari luar sana. Suara
hujan yang mendamaikan hati dan aroma khas tanah yang bercampur air hujan adalah
perpaduan yang sempurna. So refreshing, i
love it.
Drrrt.
Drrrt.
Getaran
handphone dalam saku rokku membuatku
tersentak kaget. Tiba-tiba saja fokusku berubah; dari menikmati suara hujan di
luar sana menuju nama Rea yang kembali muncul di layar handphone-ku. He sent me a
text again. Tanpa ragu aku serega membacanya.
From: Anrea
Ah, i’m forget something.
Don’t skip ur dinner! I don’t
like skinny girl J
Aku
tersenyum pelan lalu memutuskan untuk membalas pesan Rea dengan satu kata; ok.
Detik berikutnya aku kembali menunggu balasan, tapi sepertinya pria itu tak
lagi dalam status ‘online’. Kutebak,
mungkin saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju rumah Nino—seperti yang ia
bilang se-belumnya.
Sama
seperti hujan, it’s feels so refreshing
and... unxpectely i love it—mengenal Rea maksudku. Aku tidak tahu kapan pastinya,
tetapi terhitung sejak aku merasa ‘nyaman’ dengan kehadiran pria itu di
hari-hariku, aku merasa duniaku berubah. Nyaris sembilan puluh derajat. Kini
aku bukan lagi Svida yang dulu, yang tak banyak bicara, tak mau bergaul dengan
siapa pun, yang lebih suka sendirian ke mana-mana, yang dingin, yang jutek,
yang tak mau menggerakkan bibirku untuk tersenyum, yang tak ingin tahu soal apa
pun yang terjadi di sekitarku. Kini... aku merasa sedikit berbeda.
Tanpa
sadar, Rea membuatku bersedia membuka diri perlahan-lahan kepada orang lain.
Kini rasanya bertemu atau bahkan mengobrol dengan orang asing tak lagi terasa
se-awkward dulu. Contoh kecilnya,
saat aku meng-antarkan pesanan pengunjung ke meja. Aku bersedia menyisipkan
senyuman sambil mengatakan kata ‘silakan’ dengan manis. Padahal sebelumnya, aku
selalu menunduk dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Sejak
menganal Rea, aku seolah bersedia membuka diri terhadap dunia baru. Mencoba
merasakan dan melakukan hal-hal kecil yang sebelum-nya tak pernah aku lakukan.
Seperti dua hari lalu contohnya, aku bahkan bersedia ikut menonton pertandingan
futsal antara Rea dan teman-temannya sewaktu SMA dulu dan juga bersedia menjadi
supporter dadakannya di pinggir
lapangan bersama Stila. Kemarin, aku juga tak menolak ketika diajak merayakan
ulang tahun Nino di salah satu kafe di Margonda, padahal jika aku flasbhack diriku ke beberapa bulan lalu,
hal-hal seperti itu adalah hal yang tak akan mungkin kulakukan. Sangat tidak
mungkin.
I don’t go
out of my way to make a friend. It just leads to disappoint-ment. Ingat
kata-kataku dulu yang kukutip dari sebuah buku? Sepertinya kata-kata itu tak
lagi berarti. Nyatanya aku mengkhianati diriku sendiri. Aku berteman sekarang.
Dengan Rea dan dengan teman-temannya Rea.
Aku memberi diriku kesempatan sekali lagi
untuk berteman. Walau-pun aku juga masih belum yakin apakah orang-orang yang sekarang
kusebut teman ini tidak akan meninggalkanku lagi ketika tahu siapa aku dan
seperti apa keluargaku yang sesungguhnya.
I just don’t
know.
And I
hope.... no. Really.
Membayangkan Rea pergi meninggalkanku setelah
tahu siapa aku yang sebenarnya adalah the worst
thing ever yang sekarang bahkan tak ingin aku bayangkan.
And will he
still like me after he finds out about me is another worst thing ever yang juga tak
ingin aku temukan jawabannya. Saat ini.
Notes:
Hahahahaha XD
Karena nggak tahu mau nulis apa di blog, akhirnya gue mem-posting ini.
Iya, project menulis yang masih stuck di tengah jalan. Dan kenapa judulnya '109'? Bukan. Bukan karena gedung 109 yang ada di Shibuya Jepang ya. Tapi karena pada akhirnya project ini menyentuh angka 100 halaman lebih. Horeee! Iya sudah halaman 109 dan saya masih berkeinginan untuk melanjutkan.
Bismillah ya, semoga lancar semuanya~~~ :)
xoxo, mute :)

No comments:
Post a Comment