Sunday, January 31, 2016

109




cr owner


Jakarta, Mei 2013...
            “Kayaknya ada yang berubah ya sama lo, Da.”
            “Huh?”
            Via—salah satu karyawan di tempat kubekerja itu mengguman pelan sembari melipat kedua tangannya di dada. Pandangannya ditujukan ke arahku yang kala itu sedang sibuk berkutat dengan ponselku. Ia memerhatikanku dengan cermat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Setelah tahu apa yang ia rasa berubah, gadis yang dua tahun lebih tua dariku itu tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Benar, ada yang berubah. Sekarang lo jadi lebih ceria, nggak sejutek dulu. Jadi lebih sering tersenyum, apalagi kalau lagi texting gitu. Lagi whatsapp-an ya? Sama pacar?”
            Menanggapi sikap penasarannya, aku hanya mengangkat bahu ringan dan menjawab dengan santai. “Gue nggak punya pacar.”
            “Terus, kalau bukan pacar, kenapa lo senyam-senyum bahagia gitu?”
            “Gue... gue nggak senyum.” Aku menatap Via sebal lalu tanpa berpikir panjang segera mengambil langkah seribu, pergi meninggalkan gadis itu untuk menyembunyikan pipiku yang kini terasa panas. Benarkah tadi aku tersenyum? Senyum-senyum? Which mean, aku tersenyum berulang kali? Aish.
           
From: Anrea
            It’s raining now. What are u doing? Still working?
.
To: Anrea
            Hm, rain cats and dogs here. Not working, nggak ada pelanggan.

From: Anrea
            Pantesan punya waktu buat bales whatsapp gue :)
Anyway, jam berapa selesai kerjanya? Biar gue jemput.

To: Anrea
            It’s okay. Nggak usah.
            Gue masih bisa pulang sendiri kok.
            Dan, gue bawa payung.

From: Anrea
            Ck, Karenza...
               
To: Anrea
            Serius.

From: Anrea
            Sometimes i don’t know whether I should hate your
stubbornness or love it.

To: Anrea
            Just love-hate it, then.

From: Anrea
            Already :)
            Okay, drop me a line later.
            I’m going to Nino’s house now. Bye.


          Aku membaca ulang percakapanku dengan Rea yang terakhir, yang berhasil membuatku tersenyum—menurut Via—, lalu tanpa bisa kutahan, bibirku ini kembali melengkungkan senyuman lagi. Sialnya Via benar. Mung-kin aku memang senyam-senyum bahagia tadi. Mungkin aku memang tidak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum ketika membaca pesan yang dikirimkan Rea untukku ini.
            Ahg.
            Hari ini Jakarta diguyur hujan lebat, lengkap dengan kilat dan petir. Aku tidak mengerti lagi dengan pelajaran pembagian musim berdasarkan bulan yang kupelajari di bangku sekolah dasar dulu. Kini hujan tak lagi selalu datang di antara bulan Oktober sampai Maret, even Mei pun Jakarta diguyur hujan deras.
            Dan bicara soal hujan, aku selalu menyukainya. Ya, aku suka hujan. Hujan membawa kedamaian. Dalam agamaku, turunnya hujan bahkan disebut sebagai berkah dari yang Maha Esa. Aku suka melihat hujan, memerhatikan rintik-rintik air yang jatuh dari atas menyentuh tanah, membasahi jalanan yang kering, menimbulkan suara-suara yang menenangkan jiwa. Saking sukanya dengan hujan, aku bahkan sengaja men-download aplikasi rain sounds di handphone-ku dan selalu mendengarkannya sebelum aku pergi tidur. Suara hujan membuat hatiku menjadi tenang. Buatku, mendengarkan suara hujan adalah satu terapi relaksasi yang menyenangkan.
            Seperti saat ini contohnya. Kini aku tak memerlukan aplikasi rain sounds untuk mendengarkan suara hujan. Yang cukup kulakukan hanyalah duduk di salah satu meja pengunjung yang letaknya menghadap langsung ke arah jendela dan memejamkan mataku sejenak. Menajamkan pendengaran, memfokuskan diri pada suara gemercik yang terdengar jelas dari luar sana. Suara hujan yang mendamaikan hati dan aroma khas tanah yang bercampur air hujan adalah perpaduan yang sempurna. So refreshing, i love it.
            Drrrt. Drrrt.
         Getaran handphone dalam saku rokku membuatku tersentak kaget. Tiba-tiba saja fokusku berubah; dari menikmati suara hujan di luar sana menuju nama Rea yang kembali muncul di layar handphone-ku. He sent me a text again. Tanpa ragu aku serega membacanya.
           
From: Anrea
            Ah, i’m forget something.
            Don’t skip ur dinner! I don’t like skinny girl J
               

            Aku tersenyum pelan lalu memutuskan untuk membalas pesan Rea dengan satu kata; ok. Detik berikutnya aku kembali menunggu balasan, tapi sepertinya pria itu tak lagi dalam status ‘online’. Kutebak, mungkin saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju rumah Nino—seperti yang ia bilang se-belumnya.
            Sama seperti hujan, it’s feels so refreshing and... unxpectely i love it—mengenal Rea maksudku. Aku tidak tahu kapan pastinya, tetapi terhitung sejak aku merasa ‘nyaman’ dengan kehadiran pria itu di hari-hariku, aku merasa duniaku berubah. Nyaris sembilan puluh derajat. Kini aku bukan lagi Svida yang dulu, yang tak banyak bicara, tak mau bergaul dengan siapa pun, yang lebih suka sendirian ke mana-mana, yang dingin, yang jutek, yang tak mau menggerakkan bibirku untuk tersenyum, yang tak ingin tahu soal apa pun yang terjadi di sekitarku. Kini... aku merasa sedikit berbeda.
            Tanpa sadar, Rea membuatku bersedia membuka diri perlahan-lahan kepada orang lain. Kini rasanya bertemu atau bahkan mengobrol dengan orang asing tak lagi terasa se-awkward dulu. Contoh kecilnya, saat aku meng-antarkan pesanan pengunjung ke meja. Aku bersedia menyisipkan senyuman sambil mengatakan kata ‘silakan’ dengan manis. Padahal sebelumnya, aku selalu menunduk dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Sejak menganal Rea, aku seolah bersedia membuka diri terhadap dunia baru. Mencoba merasakan dan melakukan hal-hal kecil yang sebelum-nya tak pernah aku lakukan. Seperti dua hari lalu contohnya, aku bahkan bersedia ikut menonton pertandingan futsal antara Rea dan teman-temannya sewaktu SMA dulu dan juga bersedia menjadi supporter dadakannya di pinggir lapangan bersama Stila. Kemarin, aku juga tak menolak ketika diajak merayakan ulang tahun Nino di salah satu kafe di Margonda, padahal jika aku flasbhack diriku ke beberapa bulan lalu, hal-hal seperti itu adalah hal yang tak akan mungkin kulakukan. Sangat tidak mungkin.
I don’t go out of my way to make a friend. It just leads to disappoint-ment. Ingat kata-kataku dulu yang kukutip dari sebuah buku? Sepertinya kata-kata itu tak lagi berarti. Nyatanya aku mengkhianati diriku sendiri. Aku berteman sekarang. Dengan Rea dan dengan teman-temannya Rea.
Aku memberi diriku kesempatan sekali lagi untuk berteman. Walau-pun aku juga masih belum yakin apakah orang-orang yang sekarang kusebut teman ini tidak akan meninggalkanku lagi ketika tahu siapa aku dan seperti apa keluargaku yang sesungguhnya.
I just don’t know.
And I hope.... no. Really.
Membayangkan Rea pergi meninggalkanku setelah tahu siapa aku yang sebenarnya adalah the worst thing ever yang sekarang bahkan tak ingin aku bayangkan.
And will he still like me after he finds out about me is another worst thing ever yang juga tak ingin aku temukan jawabannya. Saat ini.






Notes:
Hahahahaha XD
Karena nggak tahu mau nulis apa di blog, akhirnya gue mem-posting ini.
Iya, project menulis yang masih stuck di tengah jalan. Dan kenapa judulnya '109'? Bukan. Bukan karena gedung 109 yang ada di Shibuya Jepang ya. Tapi karena pada akhirnya project ini menyentuh angka 100 halaman lebih. Horeee! Iya sudah halaman 109 dan saya masih berkeinginan untuk melanjutkan.
Bismillah ya, semoga lancar semuanya~~~ :)

xoxo, mute :)

No comments:

Post a Comment