Sunday, April 13, 2014

about mom



Yesterday, on the way back to home, randomly Ciput and I was talking about family and something related about it. He told me that I'm a lucky person who has parents like mom and dad. Yang kehidupan pernikahannya baik-baik aja dan jarang sekali bertengkar. Meanwhile if he compare it with his, it's totally diffrent. Katanya, kadang sampai kebanyakan masalah dia suka nggak betah di rumah. Yup, I'm feel sorry for him, although I never know what he really feels about but somehow I can understand. Rumah itu seharusnya jadi tempat yang paling nyaman untuk kita, kalau di rumah sendiri aja udah nggak nyaman, lalu what should we do? Sejujurnya gue juga pernah sih ngerasa nggak nyaman tinggal di rumah karena masalah keluarga yang bukan internal keluarga inti gue aja tapi agak mencakup keluarga besar. Dan sumpah itu rasanya emang nggak enak banget. And I wish I never felt like that again.

Ya, kalau dipikir-pikir memang kayaknya gue jarang banget ngeliat nyokap-bokap gue bertengkar. Terakhir kali yang gue inget mereka bertengkar sekitar satu tahun yang lalu dan itu hanya karena masalah sepele. My father want mom eat dinner together with him but mom didn't. So bokap gue marah dan ngelempar kerupuk (please deh si ayah). Nggak penting banget emang. Sedangkan pertengkaran besar yang terjadi itu terakhir kali waktu gue kelas dua SD which means udah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hebat banget ya mereka :') sometimes I wonder, can I have a future marriage like them? I wish yes.

Tapi walau ortu gue baik-baik aja dan jarang banget atau nggak pernah sama sekali bertengkar, bukan berarti we're a perfect family. Ada kekurangan-kekurangan lain yang pastinya kalo di-mention one by one itu banyaaaak.

Kadang gue berpikir, Tuhan itu memang adil loh. See misalkan nih ya, lo nggak punya sesuatu yang dimiliki orang lain, tapi pasti di satu sisi lo juga punya sesuatu yang orang lain nggak miliki. Jadi, daripada repot-repot iri sama orang lain, lebih baik bersyukur aja deh. 

Gue selalu bersyukur punya ibu seperti ibu kita kartini, ibu Indah, mama gue yang sangat gue cintai. Yang selalu ada dan bersedia jadi tempat sandaran saat gue butuh. Gue sayang banget sama dia. Bahkan gue nggak tahu bakalan kayak apa hidup gue nanti jika tanpa dia.

Kayak kemarin contohnya. Jadi ceritanya, kemarin gue lagi pusing-pusingnya dan kalut banget masalah kuliah dan laptop yang nggak kunjung bener walau udah di servis. I want to write my assignment but sadly my laptop is not working properly and idk why it's going reallllly damn slow. I was angry, emosi, kesel, sampe nangis saking betenya. It's very important assignment to me but my laptop didn't want me to do it as soon as possible. So i was crying in my room until my mother came and asked why. I told her everything and surprisingly, tadinya gue pikir dia bakalan nasehatin gue atau apa tapi yang dia lakukan waktu itu hanya meluk gue selama kurang dari satu menit sambil ngelus-ngelus pundak gue. Setelah gue merasa tenang, dia bilang. "Ya udah besok kita ke Mangga Dua, ke servis centernya langsung aja ya. Nanti mama tambahin uangnya."

Saat itu gue kaget dan makin pengen nangis. She understand me really well. Yes definitely because she is my mother so she know every details about me include my weak feeling. Ya, kalo dipikir sepele banget nangis karena laptop rusak, tapi somehow dia mengerti.

Dari sana gue berpikir, Ciput is right, gue beruntung bisa jadi salah satu orang yang punya mama dengan sifat superpengertian seperti dia. Yang masih bersedia meng-handle segala keperluan gue bahkan saat tahun ini umur gue menapaki angka 21. Yang masih mau peduli dengan segala hal sepele tentang gue yang sebenernya bisa gue atasin sendiri. Kadang rasanya kalau udah gini mau cepet-cepet aja ngebahagiain mama sama ayah. Mau cepet-cepet lulus, kerja, dan membuktikan pada mereka bahwa finally sekarang bisa gantian aku yang meng-handle kalian. Yang bertanggung jawab penuh atas masa tua kalian. Yang membahagiakan kalian dengan kekuatan dan keringatku sendiri. :')

Selama ini gue sayang banget sama nyokap bokap gue. Gue pengen mereka bisa hidup bahagia dan terus berada di sisi gue selamanya. Ngeliat gue menikah, punya anak, sampai wujudtin semua impian-impian gue. Karena gue nggak tahu hidup gue bakalan kayak apa kalau tanpa mereka berdua. I never want to imagining how can I living without  them. It's scary. Indeed.

Selama dua bulan terakhir, di kelas gue udah ada tiga orang yang orangtuanya meninggal. Entah itu ayahnya atau ibunya. Contohnya Firdi yang ibunya meninggal karena kanker, Renol yang ibunya meninggal karena sakit juga, dan Niky yang bapaknya meninggal karena kecelakaan motor. Hal itu seolah nampar gue kalau someday it could be happen to me, right? Tapi gue harap itu masih lama banget karena gue sama sekali belum siap. Gue masih butuh mereka berdua di dalam hidup gue.

Makanya, setelah tertampar (emang dasar ya manusia harus ditampar dulu baru nyadar) gue jadi sadar kalau sekarang yang bisa gue lakukan adalah membahagiakan orang tua gue secepatnya selama mereka masih lengkap berada di sisi gue. Karena gue nggak mau menyesal sama sekali di kemudian hari jika gue memang belum sempat membahagiakan mereka tapi mereka udah kedahuluan dipanggil. Ih amit-amit, jangan sampeeeeek.

Makanya, sekarang sering-sering deh peluk mama atau papanya dan tell them that you really love them. Selagi masih ada kesempatan untuk mengatakannya. Karena sesungguhnya, dari sekian banyak orang di dunia ini, seharusnya orangtualah yang menyandang gelar persons who you can't live without.

Seburuk apa pun orang tua lo, sejelek apa pun wajahnya, sifat, dan pekerjaannya, orang tua adalah orang yang telah melahirkan lo.

Remember guys, without them you never exist in this world. 

xoxo, mute :)

No comments:

Post a Comment